Sunday, August 16, 2009

Studio Komik Papillon



Kemarin ini aku kedatangan temen lama, Fajar, salah satu dari pendiri Studio Komik Papillon di Semarang. Dari dulu memang temen satu almamater ini (walaupun beda fakultas) memang udah banyak wira-wiri di dunia perkomikan tanah air. Pernah salah satu komiknya di terbitkan oleh Elex Media Komputindo, sayang aku lupa judulnya, tapi yang jelas bercerita tentang "cerita horor". Dengan teknik tinta hitam putih. Patut diacungi jempol mengingat dunia perkomikan tanah air kita ini, kalah dengan Komik Superhero Amerika terbitan Marvell, Karakter Komik Disney atau Komik Manga dari Jepang yang mendominasi dunia perkomikan dunia. Panjang perjuangan yang ditempuh sebelum dia sukses dengan Studio Komiknya. Sekarang dia dan teman-temannya sudah bisa mengeruk dollar dengan menjual hasil karya mereka di internet. Membuka website sendiri di http://www.papillonstudio.org/, mereka mulai mengakses pasar international. Biasanya mereka menerima order dari pembuat cerita, kemudian mulai prosesing pembuatan sketsa karakter tokoh komiknya. Dari situ mulai pengerjaan gambar sketsa, dan pewarnaan. Semuanya dikerjakan oleh anggota tim di studio yang masing-masing punya job sesuai dengan keahliannya. Menarik juga, mengingat yang mengorder-pun gak maen-maen. Dari Brasil, Amerika, Afrika Selatan, dan beberapa negara di Eropa. Walaupun komiknya seringkali tidak beredar disini, tapi beberapa sudah diterbitkan di Amerika dan Eropa. Terakhir dia mengerjakan "The Fro" kisah seorang superhero dengan Rambut kribo dan gitar listrik sebagai senjatanya. Untuk menyelesaikan seluruh cerita dalam naskah yang diberikan oleh si pembuat cerita ini, mereka menghabiskan waktu sekitar 6 bulan. Rencananya komik ini akan di cetak di surat kabar, dan mereka mendapatkan copy hasil cetak buku fullcolor dengan kertas kalender (limited edition) sebanyak 16 exp. Dan... horee... aku kebagian satu. Pengerjaan gambar dan teknik pewarnaan dikerjakan dengan menggunakan Adobe photoshop. Waktu aku cerita tentang anakku Fira yang suka bikin komik juga, dia menyambutnya dengan antusias, agak surprise juga karena dia bahkan tidak tau soal program SAI Paint yang suka dipakai anakku. Mungkin karena program itu biasa dipakai oleh pembuat Manga dari Jepang. Agak beda dengan karakter komik yang biasa dibuat Fajar. Sayangnya dia gak punya cukup waktu untuk mengajari anakku.
Beberapa kali mereka juga mengadakan workshop gratis di SMP atau SMA di kota Semarang dan acaranya berlangsung sukses. Salah satu usaha untuk mengenalkan keberadaan komunitas komik mereka di negaranya sendiri. Walaupun banyak para komikus kita yang berkarya di luar negeri, rupanya hasil karya mereka malah belum dikenal di negeri sendiri. Ironis memang, karena di negeri ini justru orang belum banyak yang bisa menghargai desain, dan proses perwujudan sebuah karya seni. Sebuah buku hanya dilihat dari harga rupiahnya dan bukan dari esensi dari proses terjadinya suatu karya.
Cerita tentang Studio mereka dan komunitas komikus Semarang ini juga mengilhami FARID SYAFRODHI dan INDAR WAHYU HIDAYAT,untuk membuat film dokumenter berjudul "Kupu-kupu yang Mengantongi Dollar" (Papillon = Kupu-kupu). Film ini mampu masuk menjadi semifinalis dalam kompetisi film dokumenter untuk meraih "Eagle Award" yang diselenggarakan oleh Metro TV.
Terus berjuang kawan! semoga usahamu untuk menghidupkan dan menggairahkan dunia komik tanah air kita bisa tercapai.

No comments: