karepku dhewe
Lagi bingung? ada ide atau lagi bundhet? berbagi cerita tentang kegembiraan dan kesedihan....everything... Pokoknya tuangin aja semua kesini, gak ada yang ngelarang ini.. Sekalian buang suntuk, kali aja ada inspirasi lain yang pengin ditulis. Secara gua emak-emak gitu looh... kadang2 bosen juga cuman ngurusin kerjaan rumah. Pengin ada sedikit yang bisa dilepasin dari rutinitas harian. So... enjoy dikit dengan ngeblog lebih baik daripada ngomongin orang ama tetangga sebelah.. ya nggak?
Wednesday, December 21, 2011
Tuesday, December 20, 2011
Sekitarku... in Black n White
Sunday, December 4, 2011
Pedati Gedhe Pekalangan


Coba bandingkan gambar Pedati Gede Pekalangan diatas dengan pedati biasa dibawahnya. Gambar tersebut diatas adalah Gambar koleksi Tropen Museum - Belanda, yang menggambarkan kondisi pedati ditahun 1930-an. Pedati Gede Pekalangan (disebut Pekalangan karena pedati ini sekarang tersimpan di Kampung Pekalangan - Cirebon) merupakan kendaraan pedati milik Keraton Kasepuhan Cirebon. Pedati ini mempunyai ukuran yang sangat besar yaitu dengan panjang mencapai kurag lebih 8.5 m, tinggi 3,5 m, dan lebar 2,6 meter. Pedati mempunyai 8 buah roda yang berukuran sangat besar, yaitu : 6 roda belakang dengan diameter: kurang lebih sepanjang 2 m dan 2 roda depan dengan diameter 1.5 m. Roda-roda tersebut dihubungkan dengan poros-poros roda dari kayu berdiameter 15 cm, dan sebagai pelumasnya dahulu digunakan pelumas yang dibuat dari getah pohon damar. Pedati ini menggunakan sistem konck down, sehingga dapat dibongkar pasang sesuai dengan kebutuhannya. Berdasarkan catatan dari Pangeran Haji Yusuf Dendrabrata (alm) dari Keraton Kacirebonan, dikatakan bahwa Pedati Gede dibuat pada masa Pangeran Cakrabuwana pada tahun 1371. Waktu itu Cirebon belum menjadi kerajaan dan hanya berupa daerah yang berbentuk tumenggungan. Disebutkan pula bahwa dimasa pemerintahan Sunan Gunung Jati (Sultan Keraton Cirebon yang pertama yang merupakan keponakan dari Pangeran Cakrabuwana), sekitar abad ke-15 pedati gede ini digunakan sebagai kendaraan kerajaan dan ikut berperan pada saat pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Pedati Gede digunakan untuk mengangkut bahan bangunan untuk pendirian Masjid.

Saat ini pedati yang telah rusak tersebut disimpan di situs purbakala milik Keraton Kasepuhan di Kampung Pekalangan Cirebon, sedangkan di Keraton Kasepuhan dibuat duplikatnya dan disimpan di halaman belakang Keraton. Pada Kirab Budaya Hari Jadi Kota Cirebon ke 642 kemarin, Pedati Gede ini dikeluarkan dari Keraton Kasepuhan dan ikut berkeliling kota mengikuti kirab, dengan ditarik 3 ekor kerbau. Duplikat Pedati Gede ini dibuat di tahun 1996, oleh para pengrajin dari Kalu Wulu, dan dibuat mengikuti ukuran dan sistem kerja dari pedati aslinya. Walaupun begitu, menurut Lurah Keraton Kasepuhan, untuk menjalankannya mereka mengaku kesulitan karena ukuran pedati yang sangat besar sehingga tidak mudah untuk mengendalikannya di jalan raya. Duplikat Pedati Gede ini dibuat dari bahan kayu jati, dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannya. Disamping mereka harus mempelajari sistem kerja dari Pedati Gede yang asli, yang sudah mulai rusak di makan usia, kesulitan lain yang dihadapi adalah sulitnya mencari bahan baku kayu jati yang berkualitas dengan ukuran yang cukup untuk membuat roda pedatinya.
Labels:
beauty heritage,
cirebon,
desain,
jalan-jalan,
motret
| Reactions: |
Kereta Singa Barong

Kereta Singa Barong adalah salah satu kendaraan kebesaran milik Keraton Kasepuhan Cirebon. Kereta ini kini tersimpan di museum yang terletak di dalam komplek Keraton Kasepuhan. Bentuknya yang sangat unik dan indah ini terinspirasi dari mimpi Pangeran Losari, adik dari Panembahan Ratu I, Raja Kasultanan Cirebon yang kedua. Dalam mimpinya tersebut Pangeran Losari melihat mahluk prabangsa yang mempunyai badan seekor singa, berkepala burung garuda dan berbelalai seperti seekor gajah memegang sebuah trisula. Mahluk bersayap tersebut terbang dengan gagah mengelilingi angkasa. Ketika hal tersebut disampaikan kepada kakaknya, Panembahan Ratu, maka wujud mahluk tersebut menjadi inspirasi untuk membuat kereta kerajaan yang baru, menggantikan Pedati Gede Pekalangan.

Melalui tangan Ki Gede Kaliwulu atau Ki Gede Natagana, dibuatlah kereta tersebut pada tahun 1571 tahun Saka atau tahun 1649 M.
Hal tersebut sesuai dengan sengkalan tahun yang menyebutkan bahwa dibuatnya kereta tersebut dilambangkan dalam sengkalan yang berbunyi "Iku Pandhita Buta Rupane" yang artinya = Itu Pendeta Raksasa Wujudnya. Sengkalan adalah perlambang yang menjadi simbol terjadinya suatu peristiwa atau kejadian. Dalam simbolisasi tersebut tiap angka mewakili watak atau wujud sesuatu. ( Iku = 1, Pandhita = 7, Buta = 5, Rupa/Rupane = 1 (dibaca terbalik dari belakang)) . Kereta ini menjadi kereta dinas Sultan yang digunakan untuk berkeliling memantau kegiatan di seluruh wilayah Keraton pada jaman dahulu.
Walaupun dibuat hampir 500 tahun lalu, tetapi kereta ini telah di desain dengan memikirkan hal-hal yang dangat mendetail. Kereta mempunyai 4 buah roda, dengan roda di depan yang lebih kecil dibandingkan dengan roda belakangnya. Roda-roda ini dibuat sedemikian rupa sehingga ketika melewati jalanan becek, maka lumpur atau tanah tidak akan mengotori badan kereta. Kereta juga dibuat dengan memikirkan sistem suspensinya sehingga memberi kenyamanan bagi pengendaranya dan mengurangi terjadinya goncangan ketika melewati jalanan yang tidak rata. Kereta ditarik oleh 4 ekor kerbau bule, dan untuk mengemudikannya, dibuat tuas dengan sistem hidrolik sehingga memudahkan sais kereta untuk mengendalikannya.Pada Tahun 1942, kereta mulai tidak digunakan lagi dan disimpan di museum Kereta Singa Barong yang berada di Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pada tahun 1996, dibuatlah replika / duplikat Kereta Singa Barong yang dikerjakan oleh para pengrajin ukir dari Desa Kaliwulu - Kabupaten Cirebon. Desa tersebut merupakan desa sentra pengrajin pahatan dan ukiran di Cirebon yang juga merupakan turunan dari Ki Gede Kaliwulu, pencipta Kereta Singa Barong yang asli. Kereta Replika ini dibuat dalam rangka menyambut Festival Keraton Nusantara I yang diselenggarakan di Kota Cirebon pada tahun 1996. Kereta inilah yang sekarang ini bisa dilihat masyarakat berkeliling kota pada saat perayaan-perayaan tertentu seperti ketika diadakan Kirab budaya dalam rangka Festival Topeng Nusantara dan juga Kirab Budaya memperingati Hari jadi Kota Cirebon yang diadakan tiap tanggal 1 Muharram, bertepatan dengan tahun baru Hijriyah. Untuk menariknya tidak lagi diperlukan 4 ekor kerbau bule seperti dahulu, melainkan hanya dengan 2 ekor kerbau biasa saja. Akan tetapi dari bentuk dan ukuran kereta, diusahakan tidak berubah dari kereta yang aslinya.

Labels:
beauty heritage,
cirebon,
desain,
motret
| Reactions: |
Saturday, November 12, 2011
Golden Hours

Memotret di kala golden hours memang sungguh-sungguh menyenangkan. Cahaya langit dikala itu berwarna kuning keemasan dan karena matahari masih dekat dengan horison, maka sinarnya juga kelihatan lebih soft dan hangat. Golden hours atau ada juga yang menyebutnya sebagai magic hours adalah waktu sekitar satu jam sebelum atau setelah matahari terbit ataupun tengelam.

Disaat-saat tersebut, langit akan terlihat sangat indah. Suasana alam jadi lebih kelihatan hangat dan menentramkan. Biasanya banyak orang menunggu saat-saat seperti ini untuk mengabadikan suasana sunset atau sunrise.
Ada beberapa tip yang biasa disampaikan oleh para fotografer untuk menghasilkan foto yang indah selama jam-jam emas ini. Antara lain :


1. Cek waktu kapan matahari tenggelam atau terbit di lokasi dimana anda akan memotret. Perbedaan letak geografis suatu daerah tentu akan berpengaruh terhadap waktu kapan matahari terbit ataupun tenggelam
2. Nggak ada salahnya datang lebih awal ke lokasi. Disitu kita bisa mengeksplore terlebih dahulu keadaan lokasi, dimana kita bisa menemukan view yang indah, angel yang baik ataupun komposisi yang bagus. Jadi kita nggak sia-sia datang ke tempat tersebut
3. Jangan bergantung pada auto white balance. Coba pergunakan setting manual untuk menghasilkan warna yang lebih hidup. Anda juga bisa menggunakan fasilitas auto-preset yang tersedia di kamera seperti "sunny" & "cloud". Cobalah memotret beberapa kali dengan setting white balance yang berbeda dan cek hasilnya untuk menemukan suasana yang anda inginkan

4. Cek exposure pada kamera. Untuk meampilkan subyek pada foreground, anda bisa gunakan exposure yang lebih tinggi. Atau anda juga bisa menggunakan speed yang lebih rendah dan bantuan flash. Jika anda ingin lebih menonjolkan back ground, cobalah dengan exposure rendah atau gunakan speed tinggi untuk menghasilkan siluet yang tajam
5. Gunakan tripod untuk menghindari guncangan atau jika anda ingin memperoleh gambar yang lebih tajam ketika menggunakan speed rendah.

Labels:
alam,
experience,
motret
| Reactions: |
Friday, September 23, 2011
Stress Release
Banyak cara-cara yang dilakukan orang jika ingin mengurangi stress. Suasana hati yang berat, penat, tertekan, jadi lebih plooong ketika kita mengeluarkan energi negatif dan memasukkan energi positif ke dalam tubuh kita. Ada satu cara yang biasa aku lakukan jika ingin mengeluarkan energi buruk dalam pikiranku ini yaitu bercanda dengan anak-anak.
Ya... kadang-kadang hanya bergurau ha ha hi hi.. membicarakan kekonyolan yang sepele, atau menertawakan acara di televisi jika kita sedang menonton tv bersama. Tapi.. sepertinya itu jadi obat mujarab juga untuk menghilangkan stress. Anak-anak sudah mulai beranjak besar. Yang satu, tahun ini sudah SMA kelas 3 dan adiknya baru masuk SMA. Hanya saja mereka sekarang tinggal bersama neneknya karena ibu mertua memaksa untuk mengurusi mereka ketika tahun lalu pensiun dari pekerjaannya. Katanya biar nggak bengong dan kena post power syndrome, jadi lebih baik ngurusin cucu-cucu. Semuanya anakku cewek, jadi mereka lebih dekat ke aku, mamahnya... ketimbang ke papahnya. Jika kita berempat sedang bercanda, maka si ayah akan jadi pihak yang kalah dipojokkan oleh kita bertiga. Sungguh kebersamaan ini merupakan anugerah yang tak terhingga dan kusyukuri benar... karena keluarga adalah hartaku yang paling berharga.
Alhamdulillah anak-anakku bukan anak-anak yang penuntut. Bahkan untuk membeli buku cerita, komik atau novel yang diinginkannya mereka sengaja menabung dari uang saku mereka, dan jarang meminta kepadaku. Kesukaan mereka pada buku ini mungkin karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang kulakukan ketika mereka kecil. Sebelum mereka bisa membaca sendiri, kadang aku membacakan buku cerita ketika mereka hendak tidur. Mereka sangat antusias melihat gambar-gambar dibuku dan menujuk ini itu sambil mulutnya berceloteh menanyakan atau mengomentari apa yang ada di dalam buku. Sering celotehnya ini membuat aku tersenyum, mengkerutkan dahi atau juga malah tertawa. betapa masa-masa itu seperti belum lama melintasi hidupku.
Kini ketika mereka sudah besar, celoteh-celoteh itu berubah jadi gurauan kritis. Yang kadang-kadang aku tidak menduga sama sekali bisa keluar dari mulut mereka. Kadang-kadang masih membuatku tersenyum, mengeryitkan dahi bahkan tertawa. Seperti juga kejadian yang sama di masa lalu.. hanya saja komentar mereka jauh lebih pintar sekarang.
Karena ayahnya suka bercanda dan juga punya selera humor yang tinggi, maka anak-anak kadang menganggap kita sebagai teman bicara. Walaupun pada waktu-waktu tertentu ayahnya juga bisa tegas mengenai sesuatu, anak-anak tidak pernah mengkonfrontir jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Seperti saat si sulung mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan sekolahnya nanti ke jurusan Seni Rupa atau Game Maker. Rupanya dia sudah tau betul karakter dirinya yang paling nggak suka kalau disuruh menghafal pelajaran di sekolahnya. Dari kecil dia lebih suka main puzzle ketimbang boneka. Mengutak-atik komputer, belajar membuat karakter komik sendiri dan download program SAI di PC miliknya. Sedikit-pun kami tak pernah mengajarinya dan memaksakan keinginan kami. Karena kami ingin mereka menemukan apa yang adi kebisaan mereka sendiri , daripada memaksakan keinginan kita, orangtuanya. Orang tua boleh berharap, tapi menurutku apa yang mereka tekuni nanti harus berasal dari kemauan mereka sendiri. Dengan begitu mereka bisa belajar untuk konsekuen atas langkah yang akan mereka ambil dan lebih bertanggung jawab dalam menentukan pilihannya.
Ternyata sejauh ini cara itu lumayan berhasil. Jika mereka memilih untuk menekuni sesuatu maka mereka akan menjalaninya dengan baik. Contohnya si bungsu yang memilih untuk latihan wushu di salah satu klenteng di Cirebon sini. Walaupun latihan-nya cukup berat dan waktu latihannya juga jam 19.00 - 22.00, 2 kali dalam seminggu, sampai sekarang dia masih senang menjalaninya. Bahkan ketika teman-teman cewe satu sekolahnya mulai berguguran satu persatu tak pernah lagi datang ke latihan, dia tetap minta diantarkan untuk berangkat. Karena penasaran, lama-lama aku nggak tahan untuk menayakan kenapa dia tetap bertahan ikut latihan sementara teman-temannya nggak pernah berangkat lagi. Dan jawabannya adalah : " Buat stress release mah! Sheila udah capek ngerjain tugas terus dari sekolah...."
Lain lagi sama si sulung.. cara dia untuk menghilangkan stress adalah main ke game center di salah satu hypermart di kota ini. Rupanya ada game kesukaannya yang hanya ada di game centre itu. Rela dia bela-belain pergi sendirian kesitu, naik angkot cuman mau maen game doang. Habis selesai maen, ya udah... pulang sambil kemudian bercerita seru ke adiknya soal permainannya tadi. Adiknya terus aja menanggapi sambil komentar ini itu dan akhirnya mereka ketawa ha ha hi hi berdua.
Kadang-kadang jika ada waktu luang, aku ikut mendengarkan dan melihat lagu-lagu kesukaan mereka. Yang kecil sukaa banget sama 2PM dan Big Bang, Boys Band asal Korea yang juga ngetop sampai kemana-mana... herannya dia sama sekali nggak tertarik sama boysband tanah air yang sekarang ini lagi naik daun. Tidak satupun... satu-satunya yang dia suka ya cuma RAN saja, soalnya katanya nggak ikut-ikutan sama yang laen-laen.
Kadang-kadang malah aku yang dipaksa mendengarkan lagu-lagu baru dari band-band atau penyanyi selera mereka seperti Owl City, Avril Lavigne bahkan Paramore. Hh.. dasar anak-anak, herannya aku kok ya nurut aja yaa he he he... Akhirnya beberapa lagu-lagu mereka ini jadi akrab ditelingaku, bahkan ketika punya kesempatan karaoke bersama di salah satu tempat karaoke keluarga (untuk stress release juga) aku disuruh ikut menyanyikan lagu Tik-Tok nya Kesha... sampai-sampai ayahnya nanya "Kok mamah ngerti sihh".. ha ha ha gimana nggak ngerti... lha sering denger ya lama-lama ikut nyanyi juga...
Soal kebiasaanku-kebiasaanku yang akhirnya mengikuti selera mereka ini si bungsu pernah bilang " Mamah jangan jadi mak-mak yang kaya tante-tante itu yaa" katanya "Memangnya kenapa?" tanyaku "Soalnya mamah kan gaul, nggak suka dandan menor, rambutnya nggak sasakan, nggak pake baju yang cewek banget, nggak suka nonton sinetron, sukanya motret sama nge-blog, terus suka sama lagu-lagu kita... mamah seruuu..." ha ha ha.....
Alhamdulillah anak-anakku bukan anak-anak yang penuntut. Bahkan untuk membeli buku cerita, komik atau novel yang diinginkannya mereka sengaja menabung dari uang saku mereka, dan jarang meminta kepadaku. Kesukaan mereka pada buku ini mungkin karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang kulakukan ketika mereka kecil. Sebelum mereka bisa membaca sendiri, kadang aku membacakan buku cerita ketika mereka hendak tidur. Mereka sangat antusias melihat gambar-gambar dibuku dan menujuk ini itu sambil mulutnya berceloteh menanyakan atau mengomentari apa yang ada di dalam buku. Sering celotehnya ini membuat aku tersenyum, mengkerutkan dahi atau juga malah tertawa. betapa masa-masa itu seperti belum lama melintasi hidupku.
Kini ketika mereka sudah besar, celoteh-celoteh itu berubah jadi gurauan kritis. Yang kadang-kadang aku tidak menduga sama sekali bisa keluar dari mulut mereka. Kadang-kadang masih membuatku tersenyum, mengeryitkan dahi bahkan tertawa. Seperti juga kejadian yang sama di masa lalu.. hanya saja komentar mereka jauh lebih pintar sekarang.
Karena ayahnya suka bercanda dan juga punya selera humor yang tinggi, maka anak-anak kadang menganggap kita sebagai teman bicara. Walaupun pada waktu-waktu tertentu ayahnya juga bisa tegas mengenai sesuatu, anak-anak tidak pernah mengkonfrontir jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Seperti saat si sulung mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan sekolahnya nanti ke jurusan Seni Rupa atau Game Maker. Rupanya dia sudah tau betul karakter dirinya yang paling nggak suka kalau disuruh menghafal pelajaran di sekolahnya. Dari kecil dia lebih suka main puzzle ketimbang boneka. Mengutak-atik komputer, belajar membuat karakter komik sendiri dan download program SAI di PC miliknya. Sedikit-pun kami tak pernah mengajarinya dan memaksakan keinginan kami. Karena kami ingin mereka menemukan apa yang adi kebisaan mereka sendiri , daripada memaksakan keinginan kita, orangtuanya. Orang tua boleh berharap, tapi menurutku apa yang mereka tekuni nanti harus berasal dari kemauan mereka sendiri. Dengan begitu mereka bisa belajar untuk konsekuen atas langkah yang akan mereka ambil dan lebih bertanggung jawab dalam menentukan pilihannya.
Ternyata sejauh ini cara itu lumayan berhasil. Jika mereka memilih untuk menekuni sesuatu maka mereka akan menjalaninya dengan baik. Contohnya si bungsu yang memilih untuk latihan wushu di salah satu klenteng di Cirebon sini. Walaupun latihan-nya cukup berat dan waktu latihannya juga jam 19.00 - 22.00, 2 kali dalam seminggu, sampai sekarang dia masih senang menjalaninya. Bahkan ketika teman-teman cewe satu sekolahnya mulai berguguran satu persatu tak pernah lagi datang ke latihan, dia tetap minta diantarkan untuk berangkat. Karena penasaran, lama-lama aku nggak tahan untuk menayakan kenapa dia tetap bertahan ikut latihan sementara teman-temannya nggak pernah berangkat lagi. Dan jawabannya adalah : " Buat stress release mah! Sheila udah capek ngerjain tugas terus dari sekolah...."
Lain lagi sama si sulung.. cara dia untuk menghilangkan stress adalah main ke game center di salah satu hypermart di kota ini. Rupanya ada game kesukaannya yang hanya ada di game centre itu. Rela dia bela-belain pergi sendirian kesitu, naik angkot cuman mau maen game doang. Habis selesai maen, ya udah... pulang sambil kemudian bercerita seru ke adiknya soal permainannya tadi. Adiknya terus aja menanggapi sambil komentar ini itu dan akhirnya mereka ketawa ha ha hi hi berdua.
Kadang-kadang jika ada waktu luang, aku ikut mendengarkan dan melihat lagu-lagu kesukaan mereka. Yang kecil sukaa banget sama 2PM dan Big Bang, Boys Band asal Korea yang juga ngetop sampai kemana-mana... herannya dia sama sekali nggak tertarik sama boysband tanah air yang sekarang ini lagi naik daun. Tidak satupun... satu-satunya yang dia suka ya cuma RAN saja, soalnya katanya nggak ikut-ikutan sama yang laen-laen.
Kadang-kadang malah aku yang dipaksa mendengarkan lagu-lagu baru dari band-band atau penyanyi selera mereka seperti Owl City, Avril Lavigne bahkan Paramore. Hh.. dasar anak-anak, herannya aku kok ya nurut aja yaa he he he... Akhirnya beberapa lagu-lagu mereka ini jadi akrab ditelingaku, bahkan ketika punya kesempatan karaoke bersama di salah satu tempat karaoke keluarga (untuk stress release juga) aku disuruh ikut menyanyikan lagu Tik-Tok nya Kesha... sampai-sampai ayahnya nanya "Kok mamah ngerti sihh".. ha ha ha gimana nggak ngerti... lha sering denger ya lama-lama ikut nyanyi juga...
Soal kebiasaanku-kebiasaanku yang akhirnya mengikuti selera mereka ini si bungsu pernah bilang " Mamah jangan jadi mak-mak yang kaya tante-tante itu yaa" katanya "Memangnya kenapa?" tanyaku "Soalnya mamah kan gaul, nggak suka dandan menor, rambutnya nggak sasakan, nggak pake baju yang cewek banget, nggak suka nonton sinetron, sukanya motret sama nge-blog, terus suka sama lagu-lagu kita... mamah seruuu..." ha ha ha.....
Thursday, September 22, 2011
Telaga Warna Dieng

Dataran tinggi Dieng merupakan dataran tinggi yang mempunyai kawah-kawah yang tersebar di beberapa tempat. Dataran ini terletak di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Beberapa kawah disana masih aktif dan kadang-kadang masih menyemburkan lumpur atau air panas. Namun beberapa juga sudah mati dan kemudian membentuk cekungan yang terisi air dan akhirnya menjadi danau atau telaga.
Jika berkunjung ke Dieng, mampirlah barang sejenak ke telaga warna. Telaga ini juga merupakan bekas kaldera yang mati, dan menjadi sebuah danau yang indah. Disebut telaga warna karena warna air disana terlihat berwarna-warni. Hijau, putih dan kebiru-biruan. Dulu.. konon katanya kadang tela
ga ini juga mengeluarkan warna merah. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan sulfur di dalam telaga dan juga ganggang-ganggang yang tumbuh didalamnya bereaksi dengan air telaga dan menimbulkan warna telaga seolah berubah-ubah.
ga ini juga mengeluarkan warna merah. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan sulfur di dalam telaga dan juga ganggang-ganggang yang tumbuh didalamnya bereaksi dengan air telaga dan menimbulkan warna telaga seolah berubah-ubah.Hanya saja, mengenai asal-usul warna telaga ini, penduduk disana kadang berkata lain. Cerita riwayat telaga ini bahkan sering aku dengar ketika aku masih kecil. Kebetulan ayahku bekerja sebagai pegawai pemda di Kabupaten Wonosobo, jadi beliaulah yang menyambungkan cerita rakyat itu kepadaku dan saudara-saudaraku. Konon katanya dahulu pernah ada seseorang turunan raja yang membuang perhiasannya kedalam telaga. Warna-warni batu permata inilah yang kemudian berpendar dan membias sehingga membuat air telaga kelihatan berwarna-warni.
Ketika ayahku kemudian bertugas menjadi camat sekitar tahun 1990-an, di kecamatan Kejajar, Kecamatan di wilayah Wonosobo dimana pegunungan Dieng ini berada, keindahan telaga warna ini masih menjadi daya tarik para wisatawan untuk
pergi kesana. Sayangnya penataan disekitar kawasan belum begitu baik. Dulu.. disini ada jembatan gantung yang menghubungkan satu sisi telaga dengan sisi yang lain. Ketika aku mengajak teman-teman satu kost-ku semasa aku kuliah dulu jembatan itu sudah rusak dan tak bisa dilewati lagi.
pergi kesana. Sayangnya penataan disekitar kawasan belum begitu baik. Dulu.. disini ada jembatan gantung yang menghubungkan satu sisi telaga dengan sisi yang lain. Ketika aku mengajak teman-teman satu kost-ku semasa aku kuliah dulu jembatan itu sudah rusak dan tak bisa dilewati lagi.Kini penataan disekitar telaga sudah mulai dilakukan. Walaupun belum bisa dikatakan baik, tapi kelihatannya upaya kesana sudah mulai dilakukan. Terakhir kesana bulan lalu suasana telaga tak
berbeda jauh dengan dulu. Bahkan pohon yang tumbang dan rebah di pinggir telaga yang aku lihat dulu waktu kesana sekitar tahun 1980-an, juga masih ada ditempatnya.
berbeda jauh dengan dulu. Bahkan pohon yang tumbang dan rebah di pinggir telaga yang aku lihat dulu waktu kesana sekitar tahun 1980-an, juga masih ada ditempatnya.Di komplek telaga ini juga terdapat gua-gua yaitu Gua Semar, Gua Sumur dan Gua Jaran. Namun jika anda ingin memasuki gua-gua tersebut anda harus minta ijin terlebih dahulu pada juru kunci yang menunggu gua. Seperti layaknya beberapa tempat yang dikenal punya suasana mistis. Tempat-tempat seperti itu biasanya mempunyai mitos-mitos tertentu yang menyertai kejadian-kejadian yang kemudian melandasi penamaan dari tempat tersebut. Misalnya Gua Semar. Semar adalah tokoh punakawan dalam cerita Mahabarata yang terkenal akan kebijakannya. Gua Semar ini juga dipercaya sebagai tempat yang dijaga oleh Eyang Semar, sehingga banyak penduduk yang ingin mencapai tujuan tertentu kemudian bersemedi disini. Tujuannya adalah agar diberi keselamatan oleh Tuhan yang Maha Esa dan mendapatkan ketenangan dalam hidup dan kesuksesan dalam mencapai tujuannya.
Labels:
alam,
jalan-jalan,
motret
| Reactions: |
Subscribe to:
Posts (Atom)



