Tuesday, May 19, 2009

Sego Gono dan Ritual Menanam Tembakau


Dari obrolan tentang sego gono di milis ternyata nasi khas daerah Temanggung ini punya cerita yang dalam dibaliknya. Sego Gono, adalah makanan khas daerah kelahiranku. Nasi yang dimasak dengan campuran sayuran, tempe, teri dan kelapa parut, nikmat dan gurihnya masih aku ingat bener, walaupun sudah lama aku nggak memakannya. Biasanya setiap pagi jika ibuku tidak sempat menyiapkan sarapan, aku suka membeli Sego Gono ini sebagai sarapan pagiku. Waktu itu harga sepiringnya hanya Rp.25,-. Maklum aja.. jaman-jaman aku SD, tahun 70-an gitu segala masih murah. Dengan sepiring Sego Gono itu aku sudah bisa melenggang ke sekolah dengan energi yang berlimpah (kenyang banget... maksudnya....). Yang khas dari Sego Gono ini adalah sayuran kubis ijo atau kembang combrang yang dijadikan campuran didalamnya. Apalagi kalo makannya anget-anget ditengah sawah.. nikmat banget rasanya.
Waktu aku kuliah dan dapat tugas KKN di daerah Batang, aku juga menemukan nasi sejenis Sego Gono ini disana. Bedanya di Batang namanya Nasi Megono dan sebagai campuran nasinya bukan sayuran tetapi nangka muda yang dicacah dan di masukkan kedalam nasi. Tapi menurutku rasa Nasi Megono ini tidak senikmat Sego Gono yang biasa aku santap sewaktu kecil.
Ceritanya di Milis Temanggung salah seorang teman ngiming-iming makan Sego Gono, jadilah tanggapan bersahutan dari mana-mana.. Semuanya jadi kepingin merasakan kembali nikmatnya Sego Gono ini. Tahu-tahu ada Pak Antok Dharmanto.. Pak Lurah ini yang akhirnya mengungkapkan betapa berartinya Sego Gono ini bagi para petani tembakau di daerah Temanggung. Sego Gono menjadi salah satu syarat utama dari 7 syarat yang harus dipenuhi dalam ritual menanam tembakau disana. 7 syarat itu adalah :
1. JARIT REJENG KAWUNG : kain batik dengan motif Rejeng Kawung (harus yang baru) untuk tempat bibit tembakau yang mau ditanam. Dengan harapan nantinya hasil panen tembakau ini bisa dijadikan bebet/nyandang (membeli pakaian)
2. PRING WULUNG : Bambu dari jenis Wulung untuk memikul bibit tembakau, yang mengandung makna dan harapan agar tanaman tembakau yang ditanam ini nantinya setinggi bambu.
3. SENTE : Sejenis talas berwarna hitam, yang merupakan simbol dan harapan agar kelak daun tembakau menjadi selebar daun talas (sente)
4. SAMBELLILER : Pohon Miana, agar nantinya hasil tembakaunya warnanya mengilap seperti Sambelliler
5. DADAP SREP : maksudnya agar tumbuhnya tanaman tembakau semudah tumbuhnya tanaman Dadap Srep
6. BERAS KAPUROTO : Beras yang dicampur dengan kapur sirih dan kunyit. Maksudnya sebagai tolak bala, agar semua halangan, penyakit tanaman, hama dan lain sebagainya tidak mengganggu tanaman
7. SEGO GONO : Nasi yang isinya sayuran bermacam-macam rupa ini merupakan simbol agar hasil panen tembakau nanti bisa dibelikan macam-macam kebutuhan.
Naah.. kenapa syaratnya sejumlah 7 (7 = PITU dalam bahasa Jawa). Maksudnya agar senantiasa mendapatkan PITULUNGAN atau PERTOLONGAN dari Yang Maha Kuasa.
Ternyata, Sego Gono selain nikmat disantap juga punya makna dan filosofi yang dalam yaa....

Monday, May 18, 2009

Candi Cangkuang




Ketika berkunjung ke Garut kali ini kita sempetin mampir ke Candi di Situ Cangkuang yang berdiri di pinggir situ(danau) buatan. Candi Cangkuang merupakan peninggalan kerajaan Hindu. Sedangkan nama Cangkuang sendiri berasal dari nama sejenis pohon pandan (Pandanus Furcatus) yang banyak terdapat di sekitar candi. Pohon pandan ini daunnya banyak dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk membuat tikar dan anyaman yang lain.
Desa Cangkuang terletak disebelah utara kabupaten Garut masuk wilayah Kecamatan Leles, tepatnya berjarak 17 km dari Garut atau 46 km dari Bandung. Untuk mencapai Candi kita harus menyeberangi Situ Cangkuang dengan rakit-rakit yang disewakan penduduk setempat untuk para wisatawan. Sayangnya pengelolaan tempat ini kurang maksimal sehingga danau yang indah ini kurang terpelihara.
Candi Cangkuang terletak sebelah menyebelah dengan Kampung Pulo, kampung adat yang didirikan oleh salah satu tokoh Agama Islam bernama Eyang Dalem Arif Muhammad, yang berinisiatif untuk membendung aliran air disekitarnya dan menjadikannya sebuah danau (situ). Candi ini terletak di tanah berbukit tepat di sebelah Kampung Pulo. Awalnya ketika ditemukan candi ini sudah dalam keadaan rusak, dan kemudian dipugar kembali untuk mengembalikan bentuk aslinya.
Candi Cangkuang ini ditemukan kembali oleh Team Ahli Sejarah Leles pada tanggal 9 Desember 1966. Team Sejarah Leles ini disponsori oleh Bapak Idji Hatadji ( Direktur CV. Haruman ), dan diketuai oleh Prof. Harsoyo. Sebagai ketua penelitian sejarah dan kepurbakalaan adalah drs. Uka Tjandrasasmita, seorang ahli purbakala Islam pada
lembaga purbakala. Drs. Uka Tjandrasasmita mula-mula melihat adanya batu yang merupakan fragmen dari sebuah bangunan candi dan disamping itu terdapat pula makam kuno berikut sebuah arca ( patung ) Siwa yang sudah rusak. Penelitian tersebut
berdasarkan tulisan Vorderman dalam buku Notulen Bataviaasch Genootschap terbitan tahun 1893 yang menyatakan bahwa di Desa Cangkuang terdapat makam kuno ( Arif Muhammad ) dan sebuah arca yang sudah rusak. Selama penelitian selanjutnya disekitar tempat tersebut ditemukan pula peninggalan-peninggalan kehidupan pada zaman pra sejarah yaitu berupa alat-alat dari batu obsidian ( batu kendan ), pecahan-pecahan tembikar yang menunjukkan adanya kehidupan pada zaman Neolithicum dan batu-batu besar yang merupakan peninggalan dari kebudayaan Megaliticum.
Di sekitar Candi juga dikelilingi pohon-pohon besar yang mulai langka seperti Pohon Honje yang kulit kayunya biasanya digunakan untuk anyaman tas dan perangkat rumah tangga lainnya. Pohon ini menjulang keatas dengan akar-akar yang simpang siur menjalar di permukaan tanah.
Menurut penjaga museum, Candi Cangkuang diperkirakan merupakan peninggalan dari abad ke-7 M. Jadi pada waktu Embah Dalem Arif Muhammad datang kesini untuk menyebarkan agama Islam, Candi ini sudah berdiri selama 10 abad. Tidak banyak informasi yang bisa kita dapat dari museum. Hanya ada beberapa foto yang menunjukkan aktivitas selama pemugaran, beberapa foto artefak dan patung syiwa. Kebanyakan malah menampilkan peninggalan-peninggalan dari Kampung Pulo, pemukiman adat Islami yang berdiri belakangan. Itupun dipajang seadanya disebuah etalase, di ruangan yang gelap kalau mendung dan hujan dan tidak dialiri listrik. Jadi tidak ada penerangan sama sekali, kecuali kalau petugas museum menyalakan lampu minyak atau lilin.

Saturday, May 16, 2009

Kampung Pulo Situ Cangkuang



Kampung Pulo Situ Cangkuang, adalah salah satu kampung adat yang terdapat di komplek sekitar Candi Cangkuang di Kabupaten Garut. Pertama kesana, agak heran juga kenapa ada kampung adat yang nota bene bernuansa Islami di sekitar Candi peninggalan agama Hindu. Ternyata, konon kabarnya Embah Dalem Arif Muhammad dan kawan-kawan beserta
masyarakat setempatlah yang membendung daerah ini, sehingga terjadi sebuah danau dengan nama "Situ Cangkuang". Embah Dalem Arif Muhammad dan kawan-kawan berasal dari kerajaan Mataram di Jawa Timur dan mendiami daerah ini sekitar abad XVII.
Mereka datang untuk menyerang tentara VOC di Batavia sambil menyebarkan Agama Islam di Desa Cangkuang - Kabupaten Garut. Waktu itu di Kampung Pulo salah satu bagian wilayah dari desa Cangkuang sudah dihuni oleh penduduk yang beragama Hindu. Namun secara perlahan namun pasti, Embah Dalem Arif Muhammad mengajak masyarakat setempat untuk memeluk Agama Islam.

Di Desa Cangkuang terdapat makam kuno ( Arif Muhammad ) yang merupakan leluhur cikal bakal dari penduduk Kampung Pulo. Uniknya, di Kampung Pulo hanya terdapat 6 buah rumah adat. Kalau kita masuk ke komplek pemukiman Kapung Pulo, maka kita akan melihat 3 buah rumah di sisi kiri (selatan) dan 3 buah rumah di sisi kanan (utara). Jalan yang cukup lebar membelah komplek pemukiman ini, dan di ujung barat (kiblat) terletak Tajug/Masjid kecil dengan tempat wudlu dan sumur disampingnya. Rumah Ketua Adatnya terlihat berbeda dengan yang lain, karena atapnya memakai penutup atap ijuk. Rumah adat yang lain memakai genteng sebagai penutup atapnya.
Bentuk rumah adat di kampung pulo ini adalah rumah panggung dengan serambi yang cukup lebar di depannya untuk menerima tamu. Dindingnya menggunakan bahan kayu dan anyaman bambu dengan atap berbentuk pelana. Penghuni Kampung Pulo ini tidak pernah bertambah, hanya 6 kepala keluarga. Jika ada anggota keluarga bertambah dan menikah, maka mereka bermukim di luar kampung ini. Penduduk kampung juga terbuka dengan perkembangan teknologi. Tidak seperti di pemukiman Baduy Dalam yang pamali menggunakan segala macam alat elektronik dan benda-benda berbau teknologi, dari balik pintu rumah Si Abah yang terbuka, aku bisa melihat televisi berwarna 21 inch.
Di dalam museum yang ada disitu, kita juga bisa lihat kitab-kitab kuno dan Al-Qur'an yang ditulis di atas kulit kayu. Sayangnya waktu kita datang hari sudah sore dan di museum ini nggak ada penerangan alias nggak disambungin listrik.
Waktu kita sempat berbincang sejenak dengan Si Abah, beliau bilang mereka masih ada hubungan dengan Kesultanan Cirebon. Sayangnya hari hampir hujan dan kita udah kesorean jadi nggak sempet lagi ngobrol banyak dengan beliau.

Monday, April 13, 2009

Mummy Tutankhamun



Suatu kesempatan yang langka bisa melihat mummy raja Mesir, kalo nggak ke Mesir sendiri, kayaknya kesempatan ini jarang bisa diwujudkan. Untungnya beberapa hari ini di Grage Mall- Cirebon dapat jatah ketempatan untuk pameran mummy anak raja Mesir Tutankhamun atau Ramses II. Sheila, anakku antusias banget ketika kuajak melihat pameran yang diselenggarakan oleh Kedutaan Mesir dan National Geografi Indonesia ini. Maklum, anakku yang satu ini seneng banget dengan hal-hal yang berbau arkeologi, gara-gara nonton Indiana Jones dan baca novel Atlantis. Just like me, kalo dulu nggak ketrima PMDK di Arsitektur, mungkin aku udah masuk ke Jurusan Arkeologi.
Sayangnya pameran langka ini, kurang memberikan informasi yang cukup tentang Kebudayaan Mesir kuno. Pertama masuk ke dalam ruangan kita diberi sajian tontonan video penemuan mummy di Mesir ini, bagaimana kematian Raja Ramses II yang meninggal dalam usia yang masih muda, 19 tahun, dan diduga karena pembunuhan. Kemudian kita digiring ke tempat dimana mummy itu diletakkan dalam lemari kaca, kelihatan begitu mistis, apalagi kalo kita tau cerita-cerita seram dibalik penemuan mummy ini. Bikin merinding. Di dinding juga terdapat beberapa panel-panel poster yang menceritakan kisah dibalik kehidupan Tutankhamun Kita berharap pameran ini tidak hanya menyajikan cerita Tutankhamun tetapi juga peninggalan kebudayaan Mesir yang lain, tetapi kelihatannya tempat dan materinya nggak memungkinkan untuk dibawa berkeliling ke 24 kota di seluruh Indonesia. Untungnya beberapa hari kemudian di Discovery Channel ditayangkan tentang Ancient Egypt, dari mulai piramidnya, Kuil-kuil kuno seperti yang ditemukan di Abu Simbel dan Karnak, The Valley of the Kings, tempat kuburan raja-raja Mesir di Luxor, dan masih banyak lagi. Bukan cuma kisah penemuannya yang menarik, tetapi peninggalan arsitekturnya yang spektakuler juga nggak kalah indah. Sheila seneng banget, dan asyik nonton tayangan itu sampai selesai.
Mummy Tutankhamun pertama kali ditemukan pada tanggal 17 Februari 1923 oleh arkeolog Howard Carter dan seorang ahli Mesir lainnya, Lord Carnarvon. Disekeliling Sarchopaag dipenuhi dengan harta karun yang tak ternilai harganya. Patung dan Sarchopaagnya semuanya berlapis emas. Tetapi dibalik penemuan gemilang ini, banyak yang mengatakan bahwa kutukan mummy terus berlanjut dan menimpa orang-orang yang telah mengusik tidur panjangnya. 47 hari setelah penemuan mummy itu Lord Carnarvon ditemukan meninggal di kamar Hotel Continental- Kairo akibat gigitan nyamuk berbahaya. Pada saat kematiannya, lampu kota Kairo mendadak mati selama beberapa menit. Sementara itu di peternakan milk Carnarvon di Inggris, anjingnya mulai menggonggong dan melolong di tengah malam, membuat para pelayanan ketakutan. Anjing itu terus saja melolong tanpa henti dan akhirnya mati terkapar. Orang langsung mengaitkan peristiwa ini dengan penemuan mummy dan mengatakan bahwa ini adalah kutukan yang berasal dari makam Sang Raja.
Beberapa lama kemdian seorang anggota ekspedisi yang lain, Arthur Mace, jatuh dan koma di Hotel Continental, dan tak lama kemudian meninggal. Setelah itu teman dekat Carnarvon, George Gould, melakukan pejalanan ke Mesir dan melihat makam. Keesokan harinya dia terserang demam tinggi dan kemudian meninggal juga. Salah seorang ahli radiolog yang dikirim untuk menentukan usia mummy juga meninggal setelah melakukan scan terhadap mummy ini. Selama tujuh tahun setelah penemuan mummy ini, hanya dua orang dari seluruh anggota tim yang masih hidup. Dari 21 orang yang melakukan penggalian itu akhirnya hanya Howard Carter sajalah yang meninggal secara alami pada usia yang lanjut di tahun 1939. Entah hanya kebetulan, atau memang kutukan itu ada, rupanya hanya Howard Carter sajalah yang beruntung.
Serentetan peristiwa buruk lainnya konon masih berlanjut pada waktu mummy ini dibawa keluar Mesir untuk pameran dan penelitian. Walaupun begitu, kesempatan langka untuk melihat mummy ini, nggak mungkin disia-siakan. Urusan mati, biar Allah yang menentukan... toh pada akhirnya semua orang juga akan berpulang kepadaNya.. ya nggak?

Friday, April 10, 2009

Telaga Remis






Terletak kurang lebih 20 km-an dari kota Cirebon ke arah Majalengka, telaga ini tersembunyi diantara rerimbunan pohon pinus dan bebatuan cadas. Telaga yang asri dan sejuk ini belum tersentuh pengelolaan yang baik, walaupun beberapa ratus meter dibawahnya banyak terdapat rumah-rumah makan yang menyediakan menu ikan sebagai sajian utamanya. Telaga Remis sebenarnya sudah masuh ke wilayah Kabupaten Kuningan, tetapi lebih dekat dicapai dari Cirebon. Untuk pergi kesana ikuti rute jalan ke arah Kabupaten Majalengka, dan sebelum sentra penambangan batu Bobos belok ke kiri menuju Cikalahang. Telaga Remis terletak di atas desa Cikalahang.
Sebenernya kita sudah sering pergi ke Cikalahang untuk sekedar refreshing sambil berwisata kuliner disini, tapi belum pernah mampir ke Telaga Remis. Maklum saja.. di daerah ini sumber air yang berlimpah memungkinkan orang membuat kolam-kolam untuk pemeliharaan ikan air tawar. Banyak sudah restoran-restoran yang didirikan disini, dan tiap akhir minggu hampir semuanya penuh. Masakannya cukup enak dan harganya-pun boleh dikatakan tidak terlalu mahal. Salah satu rumah makan langganan kita adalah Rumah Makan Kharitzma. Masakannya enak, karena ikan disini selalu fresh, nangkep dari kolam sendiri. Suasana di rmah makan ini juga cukup nyaman, karena saung-saungnya yang berdiri di atas kolam cukup banyak. Jadi sambil nenyantap masakan disini kita juga bisa melihat ikan-ikan koi yang berada di kolam dibawahnya.
Naah, sebenarnya sentra rmah makan ikan ini dulunya dibangun dengan mendompleng nama Telaga Remis juga. Sayangnya karena pengelolaan tempat wisata di Telaga Remis yang kurang memadai, sekarang justru daerah Cikalahang yang jadi tempat tujuan utama untuk wisata kuliner keluarga. Orang-orang jadi malas pergi ke Telaga Remis. Jadi waktu kesini kemarin tempat ini sepi sekali. Atau mungkn juga karena orang-orang lagi pada sibuk ngeliat hasil Pemilu jadi males kesini ya...
Di tempat ini ada papan dilarang menambil ikan di telaga dengan cara apapun, tapi aku lihat ada juga orang yang mancing, malah ada bapak-bapak lagi ngejala, naik rakiy di tengah telaga. Dan petugasnya kok ya diem aja... weleeh..
Lucunya lagi kemaren waktu kesana suamiku iseng mau naik becak air dan nanya ke penjaga yang ada disana. "Pak, bisa naik becak airnya pak.. berapa lama saya bisa pake?" "Oh, terserah bapak, mau sebentar mau lama, mau berjam-jam juga boleh, silahkan Pak" Pikir suamiku waah enak banget bisa pake lama-lama tapi waktu ditanya "Terus bayarnya?" "Yah.. 10 ribu pak, perlma belas menit" ha ha ha, pantesan dengan semangat dia mau ngasih berjam-jam.. mumpung ada yang mau naik ya Pak!

Wednesday, March 18, 2009

Masjid Agung Sang Cipta Rasa










Masjid yang dikenal juga sebagai salah satu masjid wali ini, terletak di komplek alun-alun Kasepuhan Cirebon. Masjid ini dibangun bersamaan dengan Masjid Agung Demak dan merupakan pasangan dari masjid tersebut. Dulu sempat berbincang-bincang dengan Pak Ahmad Fanani, salah satu pemerhati arsitektur masjid Indonesia, beliau mengatakan bahwa pada waktu pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Gunung Jati memohon ijin untuk membuat pasangannya di Cirebon. Masjid Agung Demak mempunyai watak maskulin, sedangkan Masid Agung Sang Cipta Rasa ini mewakili watak feminin. Tidak seperti masjid-masjid wali pada umumnya yang mempunyai bentuk atap tajug (berbentuk piramid) bersusun dengan jumlah ganjil, Masid Agung Sang Cipta Rasa mempunyai bentuk atap limasan dan diatasnya tidak dipasang momolo (mahkota masjid). Bisa jadi inipun juga perlambang dari sifat feminin-nya. Bentuk konstruksi secara keseluruhan-pun terlihat lebih pendek dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang kelihatan tinggi dan gagah.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan pada tahun 1411 Tahun Saka atau 1489 M. Salah satu soko gurunya konon dibuat oleh Sunan Kali Jaga dari tatal (serpihan kayu) yang disatukan dan dibuat tiang. Sama dengan yang ada di Masjid Agung Demak. Terceritakan juga bahwa para wali pada saat masjid ini selesai didirikan berjamaah sholat Maghrib disini dan kemudian Sholat Subuh di Masjid Demak.
Didalam komplek Masjid Agung ini juga terdapat makam bagi mereka yang berjasa kepada masjid, diantaranya adalah makam Kuwu Sangkan.
Bangunan ruang sholat utama terdiri dari bangunan inti yang didalamnya terdapat mihrab dan tempat sholat Sultan Kasepuhan dan Kanoman yang masing-masing dikelilingi oleh pagar kayu. Pintu utama tempat sholat ini hampir tidak pernah dibuka, kecuali pada saat Sholat Ied atau pada waktu perayaan Maulid Nabi Muhammad. Pada hari-hari biasa, pengunjung masuk dari pintu kecil disamping yang jika melewatinya kita harus menunduk karena lubang pintu yang pendek. Ini juga mengandung filosofi bahwa kita harus merendahkan diri ketika berada di masjid.
Bagian mihrabnya terbuat dari batu putih, seperti batu palimanan dan berukir motif bunga teratai. Bentuknya merupakan adaptasi dari ragam hias arsitektur Hindu yang sebelumnya berkembang di Pulau Jawa sebelum agama Islam datang ke negeri ini. Bagian mimbar juga berukir hiasan sulur-suluran, dan pada kakinya ada bentuk seperti kepala macan, mengingatkan pada kejayaan jaman Prabu Siliwangi, jaman sebelum Kesultanan Cirebon menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Konstruksi Soko Gurunya berjumlah 12 buah, menyangga atap utama yang berbentuk limasan susun tiga. Satu dengan yang lain dihubungkan dengan balok-balok melintang dan masing-masing ikatannya menggunakan pasak. Di ruang sholat utama ini terdapat 9 buah pintu, 1 pintu utama di bagian timur, 4 pintu kecil dan 4 pintu berukuran sedang. Dinding bagian depan berupa bata putih dengan hiasan ukiran kaligrafi berjumlah 9 di sebelah kiri dan 9 di sebelah kanan, melambangkan 9 wali penyebar agama Islam di Jawa. Pintu utamanya berupa pintu kayu dengan bagian kusen berhias ukiran dengan bentukan tiang di sisi kiri dan kanan pintu yang berhias ornamen kaligrafi dan ukiran sulur-suluran.
Keseluruhan kolom bangunan ini berdiri di atas umpak, dengan bentuk umpak pada tiang-tiang utama berbentuk bulat (dari batu kali) dan di bagian serambi berbentuk kotak. Konstruksi bangunan ini unik dan sangat berbeda dengan yang ada di Masjid Agung Demak, walaupun masjid ini dibuat pada waktu yang sama.
Sayangnya beberapa komponen bangunan sudah diganti dengan tidak mengindahkan kaidah dari arsitektur masjidnya sendiri. Pada bagian bawah atap susunnya ditutup dengan ram kawat dan lukisan kaca. Jadi di dalam masjid terasa panas karena aliran udara yang harusnya mengalir dibawah atap akhirnya tertutup. Hal tersebut dilakukan karena bentuk atap tersebut memungkinkan burung dan kelelawar masuk ke dalam bangunan. Bagian penutup atapnya yang dulu konon terbuat dari ijuk, kemudian diganti sirap, kini akhirnya diganti lagi jadi genteng metal, sehingga ciri khas tadisionalnya menjadi berkurang. Beberapa bangunan baru seperti ruang wudhlu juga dibuat menempel pada dinding keliling komplek, yang secara estetika malah jadi kelihatan mengganggu.
Karena usia masjid yang cukup tua, maka kolom atau saka-saka gurunya kini ditopang dengan perkuatan dari besi baja, untuk membantu menopang konstruksi atap diatasnya.
Aktivitas di masjid ini ramai oleh peziarah ketika malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Biasanya disini orang datang untuk berdzikir dan tirakat malam disini. Beberapa orang percaya akan mendapatkan keberkahan jika melaksanakan ibadah di masjid wali ini.

Motret Pre Wedding lagi....








Ini nih korbanku yang kelima. Kali ini giliran Teguh, anak buahku yang mau married akhir Maret ini jadi obyek foto pre-weddingku. Sayangnya cewenya malu-malu kalo disuruh pose... Jadinya beberapa foto kagak dapet "feel"-nya, gara-gara Teguhnya liat kemana... cewenya liat kemana... Dah gitu mau difoto candid, juga banyak nyureng-nya..waduuuh.. Jadinya kudu pas dapet moment-nya, itupun beberapa foto jadi kelihatan kaku gitu loh... ekspresinya nggak natural. Setelah pilih-pilih, sedikit retouching di photoshop (untung banget ada program begini, jadi banyak bantu)akhirnya selesai juga. Kita ambil lokasi di Setu Patok dan Pantai Kejawanan. Setu Patok tuh kira-kira 8 km kalo dari Cirebon, Karena pas musim hujan, air damnya rada banyak, biasanya kalo kemarau bisa kering lho.. Di Kejawanan nggak foto di pantainya karena pengin dapet suasana yang laen dari foto-fotoku yang dulu. Akhirnya dapet juga lokasi di rerumputan yang lagi tumbuh subur karena musim hujan. Dengan background semak-semak dan langit sore yang rada mendung.