Friday, September 23, 2011

Stress Release

Banyak cara-cara yang dilakukan orang jika ingin mengurangi stress. Suasana hati yang berat, penat, tertekan, jadi lebih plooong ketika kita mengeluarkan energi negatif dan memasukkan energi positif ke dalam tubuh kita. Ada satu cara yang biasa aku lakukan jika ingin mengeluarkan energi buruk dalam pikiranku ini yaitu bercanda dengan anak-anak.
Ya... kadang-kadang hanya bergurau ha ha hi hi.. membicarakan kekonyolan yang sepele, atau menertawakan acara di televisi jika kita sedang menonton tv bersama. Tapi.. sepertinya itu jadi obat mujarab juga untuk menghilangkan stress. Anak-anak sudah mulai beranjak besar. Yang satu, tahun ini sudah SMA kelas 3 dan adiknya baru masuk SMA. Hanya saja mereka sekarang tinggal bersama neneknya karena ibu mertua memaksa untuk mengurusi mereka ketika tahun lalu pensiun dari pekerjaannya. Katanya biar nggak bengong dan kena post power syndrome, jadi lebih baik ngurusin cucu-cucu. Semuanya anakku cewek, jadi mereka lebih dekat ke aku, mamahnya... ketimbang ke papahnya. Jika kita berempat sedang bercanda, maka si ayah akan jadi pihak yang kalah dipojokkan oleh kita bertiga. Sungguh kebersamaan ini merupakan anugerah yang tak terhingga dan kusyukuri benar... karena keluarga adalah hartaku yang paling berharga.
Alhamdulillah anak-anakku bukan anak-anak yang penuntut. Bahkan untuk membeli buku cerita, komik atau novel yang diinginkannya mereka sengaja menabung dari uang saku mereka, dan jarang meminta kepadaku. Kesukaan mereka pada buku ini mungkin karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang kulakukan ketika mereka kecil. Sebelum mereka bisa membaca sendiri, kadang aku membacakan buku cerita ketika mereka hendak tidur. Mereka sangat antusias melihat gambar-gambar dibuku dan menujuk ini itu sambil mulutnya berceloteh menanyakan atau mengomentari apa yang ada di dalam buku. Sering celotehnya ini membuat aku tersenyum, mengkerutkan dahi atau juga malah tertawa. betapa masa-masa itu seperti belum lama melintasi hidupku.
Kini ketika mereka sudah besar, celoteh-celoteh itu berubah jadi gurauan kritis. Yang kadang-kadang aku tidak menduga sama sekali bisa keluar dari mulut mereka. Kadang-kadang masih membuatku tersenyum, mengeryitkan dahi bahkan tertawa. Seperti juga kejadian yang sama di masa lalu.. hanya saja komentar mereka jauh lebih pintar sekarang.
Karena ayahnya suka bercanda dan juga punya selera humor yang tinggi, maka anak-anak kadang menganggap kita sebagai teman bicara. Walaupun pada waktu-waktu tertentu ayahnya juga bisa tegas mengenai sesuatu, anak-anak tidak pernah mengkonfrontir jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Seperti saat si sulung mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan sekolahnya nanti ke jurusan Seni Rupa atau Game Maker. Rupanya dia sudah tau betul karakter dirinya yang paling nggak suka kalau disuruh menghafal pelajaran di sekolahnya. Dari kecil dia lebih suka main puzzle ketimbang boneka. Mengutak-atik komputer, belajar membuat karakter komik sendiri dan download program SAI di PC miliknya. Sedikit-pun kami tak pernah mengajarinya dan memaksakan keinginan kami. Karena kami ingin mereka menemukan apa yang adi kebisaan mereka sendiri , daripada memaksakan keinginan kita, orangtuanya. Orang tua boleh berharap, tapi menurutku apa yang mereka tekuni nanti harus berasal dari kemauan mereka sendiri. Dengan begitu mereka bisa belajar untuk konsekuen atas langkah yang akan mereka ambil dan lebih bertanggung jawab dalam menentukan pilihannya.
Ternyata sejauh ini cara itu lumayan berhasil. Jika mereka memilih untuk menekuni sesuatu maka mereka akan menjalaninya dengan baik. Contohnya si bungsu yang memilih untuk latihan wushu di salah satu klenteng di Cirebon sini. Walaupun latihan-nya cukup berat dan waktu latihannya juga jam 19.00 - 22.00, 2 kali dalam seminggu, sampai sekarang dia masih senang menjalaninya. Bahkan ketika teman-teman cewe satu sekolahnya mulai berguguran satu persatu tak pernah lagi datang ke latihan, dia tetap minta diantarkan untuk berangkat. Karena penasaran, lama-lama aku nggak tahan untuk menayakan kenapa dia tetap bertahan ikut latihan sementara teman-temannya nggak pernah berangkat lagi. Dan jawabannya adalah : " Buat stress release mah! Sheila udah capek ngerjain tugas terus dari sekolah...."
Lain lagi sama si sulung.. cara dia untuk menghilangkan stress adalah main ke game center di salah satu hypermart di kota ini. Rupanya ada game kesukaannya yang hanya ada di game centre itu. Rela dia bela-belain pergi sendirian kesitu, naik angkot cuman mau maen game doang. Habis selesai maen, ya udah... pulang sambil kemudian bercerita seru ke adiknya soal permainannya tadi. Adiknya terus aja menanggapi sambil komentar ini itu dan akhirnya mereka ketawa ha ha hi hi berdua.
Kadang-kadang jika ada waktu luang, aku ikut mendengarkan dan melihat lagu-lagu kesukaan mereka. Yang kecil sukaa banget sama 2PM dan Big Bang, Boys Band asal Korea yang juga ngetop sampai kemana-mana... herannya dia sama sekali nggak tertarik sama boysband tanah air yang sekarang ini lagi naik daun. Tidak satupun... satu-satunya yang dia suka ya cuma RAN saja, soalnya katanya nggak ikut-ikutan sama yang laen-laen.
Kadang-kadang malah aku yang dipaksa mendengarkan lagu-lagu baru dari band-band atau penyanyi selera mereka seperti Owl City, Avril Lavigne bahkan Paramore. Hh.. dasar anak-anak, herannya aku kok ya nurut aja yaa he he he... Akhirnya beberapa lagu-lagu mereka ini jadi akrab ditelingaku, bahkan ketika punya kesempatan karaoke bersama di salah satu tempat karaoke keluarga (untuk stress release juga) aku disuruh ikut menyanyikan lagu Tik-Tok nya Kesha... sampai-sampai ayahnya nanya "Kok mamah ngerti sihh".. ha ha ha gimana nggak ngerti... lha sering denger ya lama-lama ikut nyanyi juga...
Soal kebiasaanku-kebiasaanku yang akhirnya mengikuti selera mereka ini si bungsu pernah bilang " Mamah jangan jadi mak-mak yang kaya tante-tante itu yaa" katanya "Memangnya kenapa?" tanyaku "Soalnya mamah kan gaul, nggak suka dandan menor, rambutnya nggak sasakan, nggak pake baju yang cewek banget, nggak suka nonton sinetron, sukanya motret sama nge-blog, terus suka sama lagu-lagu kita... mamah seruuu..." ha ha ha.....

Thursday, September 22, 2011

Telaga Warna Dieng



Dataran tinggi Dieng merupakan dataran tinggi yang mempunyai kawah-kawah yang tersebar di beberapa tempat. Dataran ini terletak di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Beberapa kawah disana masih aktif dan kadang-kadang masih menyemburkan lumpur atau air panas. Namun beberapa juga sudah mati dan kemudian membentuk cekungan yang terisi air dan akhirnya menjadi danau atau telaga.
Jika berkunjung ke Dieng, mampirlah barang sejenak ke telaga warna. Telaga ini juga merupakan bekas kaldera yang mati, dan menjadi sebuah danau yang indah. Disebut telaga warna karena warna air disana terlihat berwarna-warni. Hijau, putih dan kebiru-biruan. Dulu.. konon katanya kadang telaga ini juga mengeluarkan warna merah. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan sulfur di dalam telaga dan juga ganggang-ganggang yang tumbuh didalamnya bereaksi dengan air telaga dan menimbulkan warna telaga seolah berubah-ubah.
Hanya saja, mengenai asal-usul warna telaga ini, penduduk disana kadang berkata lain. Cerita riwayat telaga ini bahkan sering aku dengar ketika aku masih kecil. Kebetulan ayahku bekerja sebagai pegawai pemda di Kabupaten Wonosobo, jadi beliaulah yang menyambungkan cerita rakyat itu kepadaku dan saudara-saudaraku. Konon katanya dahulu pernah ada seseorang turunan raja yang membuang perhiasannya kedalam telaga. Warna-warni batu permata inilah yang kemudian berpendar dan membias sehingga membuat air telaga kelihatan berwarna-warni.
Ketika ayahku kemudian bertugas menjadi camat sekitar tahun 1990-an, di kecamatan Kejajar, Kecamatan di wilayah Wonosobo dimana pegunungan Dieng ini berada, keindahan telaga warna ini masih menjadi daya tarik para wisatawan untuk pergi kesana. Sayangnya penataan disekitar kawasan belum begitu baik. Dulu.. disini ada jembatan gantung yang menghubungkan satu sisi telaga dengan sisi yang lain. Ketika aku mengajak teman-teman satu kost-ku semasa aku kuliah dulu jembatan itu sudah rusak dan tak bisa dilewati lagi.
Kini penataan disekitar telaga sudah mulai dilakukan. Walaupun belum bisa dikatakan baik, tapi kelihatannya upaya kesana sudah mulai dilakukan. Terakhir kesana bulan lalu suasana telaga tak berbeda jauh dengan dulu. Bahkan pohon yang tumbang dan rebah di pinggir telaga yang aku lihat dulu waktu kesana sekitar tahun 1980-an, juga masih ada ditempatnya.
Di komplek telaga ini juga terdapat gua-gua yaitu Gua Semar, Gua Sumur dan Gua Jaran. Namun jika anda ingin memasuki gua-gua tersebut anda harus minta ijin terlebih dahulu pada juru kunci yang menunggu gua. Seperti layaknya beberapa tempat yang dikenal punya suasana mistis. Tempat-tempat seperti itu biasanya mempunyai mitos-mitos tertentu yang menyertai kejadian-kejadian yang kemudian melandasi penamaan dari tempat tersebut. Misalnya Gua Semar. Semar adalah tokoh punakawan dalam cerita Mahabarata yang terkenal akan kebijakannya. Gua Semar ini juga dipercaya sebagai tempat yang dijaga oleh Eyang Semar, sehingga banyak penduduk yang ingin mencapai tujuan tertentu kemudian bersemedi disini. Tujuannya adalah agar diberi keselamatan oleh Tuhan yang Maha Esa dan mendapatkan ketenangan dalam hidup dan kesuksesan dalam mencapai tujuannya.

Dandelion





Saat jalan-jalan ke Dieng beberapa waktu yang lalu mataku tertuju pada sekumpulan bunga-bunga putih diatas rerumputan yang basah. Hari sudah mulai sore waktu itu, tapi remang-remang sore-pun tak mampu menyembunyikan kecantikan bunga ini dari perhatianku. Sedikit berlari aku kemudian menghampiri berusaha mengabadikannya dengan kameraku dari berbagai sudut. Baru kulihat bahwa bunga-bunga ini begitu cantik tumbuh diantara rerumputan hijau dataran tinggi Dieng. Sejuknya hawa pegunungan rupanya membuat bunga-bunga ini tumbuh subur disini. Tak seperti di dataran rendah, bunga dandelion disini terlihat lebih besar dan penuh.
Dandelion, atau di Jawa dikenal sebagai Randa Tapak adalah salah satu bagian dari genus besar Asteraceae. Bunga ini dalam bahasa latin disebut Taraxacum.
Dan tumbuh menyebar di seluruh dunia. Di Jerman, bunga ini dikenal dengan nama Lowen Zahn atau si gigi singa, karena bentuk daunnya yang bergerigi, mirip gigi-gigi gergaji atau gigi singa yang tajam-tajam. Pada waktu kuncup mulai berbunga, kelopak bunga berwarna kuning terang. Sungguh kontras dengan warna rerumputan yang menghampar hijau di sekitarnya. Namun lama-kelamaan kelopak kuning tersebut mulai gugur dan berganti dengan biji-biji yang berbulu halus membentuk bulatan di ujung batang bunganya. Biji-biji ini kemudian akan menyebar jika tertiup angin dan akan tumbuh menjad tumbuhan baru ditempat dia jatuh.
Dandelion di dataran tinggi dieng ini diameternya bisa mencapai 5 cm. Tidak seperti di dataran rendah, bunganya jadi lebih kecil karena mungkin tidak cocok dengan hawa panas. Bunga ini tumbuh baik di hawa dingin dan kelembaban udara tinggi seperti dataran tinggi di Dieng ini. Barangkali jika tumbuh di daerah sub tropis seperti Eropa atau Asia Timur, bunganya bisa lebih besar lagi ya?

Landscape






Subhanallah...Indahnya ciptaan Tuhan.. Sayangnya kadang manusia lupa untuk selalu memeliharanya. jadi karena keteledoran dan kecerobohan manusia sendiri akhirnya keindahan bentang alam ciptaan Allah ini jadi merana. Mungkin karena tuntutan jaman, penduduk yang makin padat dari tahun ketahun, juga karena ketidakpedulian manusia terhadap alam.
Akan tetapi toh bentang alam ini tak habis-habisnya di eksplore manusia. Sungguh satu bukti kekayaan dan kemurahan hati Allah bagi kita semua. Dan salah satu cara kita bersyukur adalah mengabadikannya dengan kamera, dan berbagi ke semua teman sambil menyerukan... "Sungguh.. betapa Allah itu Maha Indah... tak ada satu makhluk-pun yang dapat menandingi ciptaanNya.. " Dan sewajibnya pulalah kita selalu menyerukan Alhamdulillah.. untuk semua karunianya kepada umat-Nya

Menghargai apa yang kau miliki


Hidup adalah perjuangan
Hidup ini untuk mengelola masalah
Dalam hidup kita dituntut untuk tetap yakin
Serta siap untuk mempertahankan diri

Ketika titik terendah dalam kehidupan kita pijak
Kita baru bisa mengukur seberapa kuat kita mampu bertahan
Dan apalagi yang bisa menahan hidupmu
Kalau bukan keyakinanmu pada kuasa Allah

Allah pasti tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan yang dapat dipikul oleh hambaNya. Itu yang selalu diajarkan orangtuaku kepadaku. Keyakinan itulah yang memacu kita agar kita harus selalu bertahan dalam segala macam keadaan. Keyakinan bahwa akan selalu ada pertolongan bagi hambaNya yang senantiasa percaya kepadaNya, selalu berusaha aku lekatkan di hatiku. Dan terbukti bahwa selama ini Allah tak pernah tidur. Dia rela mendengarkan keluhan hambaNya yang sedang sedih, galau, gundah dan bahkan kadang-kadang marah. Ooh... betapa besar kekuatan cintaNya kepada kita.

Seringkali orang juga beranggapan bahwa nilai rizki yang diberikan Allah hanya dihitung dari nilai materi. Apalah artinya kekayaan duniawi.. toh kita juga tak akan membawanya ke liang kubur. Harta dalam bentuk materi hanyalah titipan. Jika sewaktu-waktu Allah berkehendak untuk mengambilnya maka musnahlah sudah. Tapi jika sebaliknya, Allah berkehendak untuk mendatangkannya dengan tiba-tiba maka datang jualah dia. Kunfayakun !! Jadi tak usahlah menghambakan dirimu untuk mencari kenikmatan dengan mencari harta yang berlebih. Mintalah untuk dicukupkan saja... Tetapi jika Allah berkehendak lain dengan melebihkannya, maka belanjakanlah dia untuk bekalmu di syurga nanti. Berikan santunan kepada para yatim piatu dan janda di sekitarmu, berikan infaq dan sodaqoh ke masjid-masjid di sekelilingmu, dan berikanlah pendidikan yang baik untuk anak-anakmu. Karena anak adalah harta kita yang paling berharga. Doa anak yang shalih dan shalihah pulalah yang bisa menemani kita di syurga. Dan jika kau berikan ilmu-mu yang bermanfaat kepada mereka, InsyaAllah itulah yang akan menjadi teman dan penolongmu di syurga...
Jadi... lihatlah lagi bahwa apa yang telah Allah berikan kepadamu itu pasti ada harganya. Harga yang tak hanya melulu diukur dengan uang atau materi. Harga yang bisa dilihat dari matahatimu jika kau mau berfikir lebih jernih. Dan yakinlah apa yang telah diberikan kepadamu adalah sebaik-baiknya rencana Allah untuk hidupmu.